JAKARTA - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai pengelola zakat, infaq, shadaqah (ZIS) berupaya meningkatkan pelayanannya kepada umat. Salah satu terobosan baru BAZNAS adalah membentuk lembaga keuangan mikro yang bernama Baitul Qiradh Baznas (BQB).
Lembaga keuangan mikro dengan sistem syariah itu diluncurkan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad, Jumat (26/2) ini. Ketua Umum BAZNAS, Didin Hafidhuddin saat peluncuran BQB di kantor pusat BAZNAS di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, menyatakan bahwa lembaga keuangan mikro syariah dari BAZNAS itu diharapkan benar-benar bisa memberdayakan umat.
"BQB didirikan sebagai salah satu upaya untuk memberdayakan kaum mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (wajib zakat). Isnya Allah layanan dari BAZNAS dengan BQB tersebut bisa bermanfaat," jelas Didin.
Pada kesempatan sama, secara simbolis Didin juga menyerahkan pinjaman modal kepada lima pelaku usaha mikro kecil. Dalam acara peluncuran BQB yang juga disaksikan sekitar 300 undangan termasuk Deputi Bidang Pembiayaan Kementrian Koperasi dan UKM, Agus Muharram itu, Didin juga mengharapkan lembaga keuangan mikro syariah itu memiliki peran besar dalam menumbuhkembangkan layanan BAZNAS kepada para pelaku usaha mikro kecil yang kesulitan mendapat akses modal dari bank.
Oleh sebab itu Didin juga mengharapkan masyarakat memanfaatkan layanan baru dari BAZNAS itu. Didin menegaskan, karena menggunakan prinsip syariah (pola bagi hasil) maka layanan baru BAZNAS itu jauh dari riba.
Sedangkan untuk memudahkan pelayanan, BQB juga mengeluarkan layanan BAZNAS Card yang bisa digunakan di seluruh BMT di seluruh Indonesia. "Insya Allah, Baitul Qiradh BAZNAS dapat membantu meningkatan ekonomi masyarakat kecil melalui sistem ekonomi syariah," tandasnya. (gus/ara/jpnn)
BAZNAS Dirikan Lembaga Keuangan Syariah
Saturday, February 27, 2010Listrik Bawah Laut Jawa-Madura Nyambung
SURABAYA- PT PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Region Jawa Timur dan Bali (RJTB) menuntaskan penyambungan saluran kabel bawah laut tegangan tinggi (SKLT) di Selat Madura. Sebelumnya, SKLT 150 KV tersebut putus karena tersangkut jangkar kapal pada 4 Januari lalu.
Manajer PLN P3B RJTB Asep Burhan optimistis penyambungan pengerjaan kabel bawah laut yang menghubungkan Jawa-Madura itu akan tuntas awal Maret 2010. Dijelaskan, saat ini pihaknya masih mengebut pengerjaan proyek dengan melibatkan tenaga kerja lokal. "Aset berupa kabel laut tersebut sepenuhnya dikelola kami," ujarnya.
Asep mengungkapkan, pelibatan tenaga kerja lokal itu sudah dilakukan pada pengerjaan 2005-2006 lalu. Waktu itu, SKLT juga tersangkut jangkar kapal dan dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal bisa menghemat Rp 6,3 miliar. Untuk itu, tahun ini pihaknya kembali memanfaatkan teknisi lokal serta teknologi yang dipakai.
"Sebab kalau memakai tenaga kerja asing berikut teknologinya, maka pengeluaran lebih besar. Sedangkan kalau memakai teknisi dan teknologi sendiri, perkiraan kami bisa menghemat Rp 6-8 miliar," ucapnya. Sebelumnya, PLN pernah memakai jasa tenaga kerja asing dari Inggris dan Italia untuk pengerjaan itu.
Dia menuturkan, saat ini pasokan listrik untuk Madura mengandalkan kabel laut sirkuit dua. Ditambah suplai dari PLTU Gili Timur Bangkalan Madura dengan memanfaatkan solar. Oleh karena itu dengan beban puncak di Madura sebesar 130 MW masih memadai.
"Nah di bulan Maret kami juga menuntaskan kabel yang melewati di samping kanan dan kiri jembatan Suramadu," ucapnya. Dijelaskan, pengoperasian kabel tersebut akan menambah pasokan untuk pulau garam itu sebesar 2 x 200 MW.
Secara terpisah, Sudirman, wakil kepala proyek menuturkan penyambungan itu untuk dua titik dengan panjang kabel 262 meter. Sementara total kabel laut yang tergelar sepanjang 4,4 kilo meter. "Saat ini pengerjaannya sudah 90 persen. Diperkirakan tuntas Senin (1/3) depan, tapi kami masih harus mengujicobakan sehingga baru siap dioperasikan Selasa (2/3)," terangnya di sela-sela pengerjaan SKLT di perairan Selat Madura.
Dia menuturkan, sejauh ini tidak ada kendala teknis dalam pengerjaan tersebut. Akan tetapi lebih karena kondisi alam, seperti arus dasar laut dan hujan. Menurutnya, dengan ditangani sendiri, proses perbaikan memakan waktu lebih singkat. Disebutkan, jumlah tenaga kerja total mencapai 50 orang.
"Mereka melakukan pengerjaan untuk beberapa tahap. Mulai dari mendeteksi dua ujung kabel yang terputus, memotong dan menutup dua ujung kabel sampai proses penyambungan yang dilakukan di atas kapal," tuturnya. (res/kim)
Labels: Nasional
Tak Pakai Sabuk Pengaman, Pengendara Tewas Terlempar dari Mobil
Friday, February 26, 2010Jakarta - Kecelakaan tragis terjadi di Jl Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat. Sebuah mobil yang melaju kencang lepas kendali dan menabrak pembatas jalan. Satu penumpang mobil terlempar keluar dari mobil lewat kaca depan, dan tewas seketika gara-gara tak memakai sabuk pengaman.
"Mobil ngebut, sabuk pengaman tidak dipakai dan akhirnya telempar ke luar," ujar Briptu Yoka dilansir dari situs TMC Polda Metro Jaya, Sabtu (27/2/2010).
Kecelakaan terjadi Jumat (26/2) sekitar pukul 23.00 WIB, . Mobil naas itu diketahui berjenis Toyota RAV nomor polisi B 8095 NL. Mobil melaju kencang dari arah Jl HR Rasuna Said, Kuningan menuju Jl HOS Cokroaminoto, Menteng. Mobil lepas kendali dan menabrak pembatas jalan, sempat melayang sebelum akhirnya mendarat di sebuah rumah.
Diketahui ada lebih dari satu orang dalam mobil naas itu. Satu orang telempar keluar lewat kaca depan, dan tewas seketika setelah terjatuh di salah sebuah rumah. Sementara korban selamat dibawa ke RS MMC Kuningan.
(Rez/Rez)
Labels: Nasional
RI Kekurangan 4 Juta Wirausahawan
Semarang - Saat ini, jumlah wirausahawan nasional hanya 400 orang. Idealnya agar bisa disebut sebagai negara maju, Indonesia harus memiliki 4,4 juta wirausahawan. Jadi masih kurang 4 juta.
Demikian dipaparkan Menakertrans Muhaimin Iskandar di sela Pelantikan dan Rakerwil GP Ansor Jateng di Hotel Semesta Semarang, Jl. Wahid Hasyim, Jumat (26/2/2010) malam.
Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin, menjelaskan sejatinya pekerja informal bisa mengisi lowongnya posisi wirausahawan. Di kancah 'perbisnisan', jumlah mereka nyaris 65 persen. Namun, sejauh ini, karena berbagai hal, mereka belum mengambil peran sentral.
"Karena itu, kita berupaya meningkatkan jiwa kewirausahaan pada pekerja informal. Melalui pelatihan atau bantuan dana," kata Ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa ini.
"Program (peningkatan kapasitas dan kuantitas wirausahawan) ini sudah ada dalam APBN. Tinggal jalan," imbuhnya.
Cak Imin menambahkan, peningkatan jumlah atau akselerasi wirausahawan nasional sangat penting, terutama menjelang berlakunya AC-FTA. Wirausahawan didorong mengisi suplai nasional, atau jika memungkinkan, pasar internasional.
Dia menegaskan pemerintah berkomitmen mem-back up program kewirausahaan. "Diharapkan, tumbuh wirausahawan baru. Ekonomi nasional berjalan," katanya.
(try/Rez)
Labels: Nasional
